Indonesian Idol 2012 (season 7) telah mencapai puncaknya kemarin, saat pengumuman pemenangnya yaitu Regina, sebagai “the new Indonesian Idol 2012″ dan Sean sebagai runner up. Dalam Indonesian Idol kali ini, saya bergabung sebagai vocal coach untuk para kontestan, tidak resminya sejak jumlahnya 25 besar “Sing for Your life” , dan resminya 15 besar sesaat sebelum memasuki babak Spektakuler. Selain saya, ada Irvan Natadiningrat (Irvan Nat) yang berlaku sebagai vocal director.
Indonesian Idol 7 ini merupakan revival Indonesian Idol yang sempat “tidur” tahun 2011 yang lalu, alias tidak diadakan. Yang membuat saya sangat senang adalah banyak pihak yang menganggap bahwa Indonesian Idol 7 merupakan season terbaik Indonesian Idol selama ini. Padahal pada awalnya tidak sedikit juga yang pesimis bahwa show yang tayang di RCTI ini bisa meningkatkan popularitasnya.
Dalam tulisan pendek ini, saya ingin berbagi beberapa catatan saya selama menjadi vocal coach Indonesian Idol 2012.
Pada awalnya, vocal director Irvan Nat yang menghubungi saya dan menawarkan posisi vocal coach. Pada awalnya saya sempat ragu, karena jadwal saya sebagai dosen serta sebagai musisi yang masih aktif melakukan performance sudah cukup padat. Namun rasanya tantangan ini tidak bisa begitu saja saya lewatkan. Khususnya mengingat popularitas Indonesian Idol yang sempat kurang baik, membuat tantangan ini terasa semakin menggoda. Apalagi saya akan bekerja berdampingan dengan vocal director handal Irvan Nat yang selain beliau adalah vocal director untuk banyak artis besar seperti Rossa, Afgan, 3 Diva, dan banyak lainnya, Irvan Nat kebetulan juga adalah vocal director di Indonesian Idol season 1 dan 2, yang menurut banyak orang adalah 2 season yang paling memorable. Akhirnya saya memutuskan untuk bergabung dengan Indonesian Idol 2012.
Audisi
Saya turut serta dalam audisi di Jakarta, yang saat itu diselenggarakan di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Saya tidak ikut menjuri, melainkan mendampingi saringan tahap akhir sebelum kontestan bertemu dengan tiga juri.
Saya kagum melihat banyak anak muda Indonesia yang bertekad untuk menjadi “the next Indonesian Idol” mereka bahkan rela antri sejak dini hari untuk audisi. Dari sekian banyak yang audisi, saya melihat banyak bakat-bakat yang belum terasah, banyak juga yang suaranya tidak jelek, tetapi tidak memiliki karakter sehingga belum bisa lolos ke tahap selanjutnya.
Dalam tahap audisi ini, apapun bisa terjadi. Bisa saja misalnya tiba-tiba Kontestan diminta menyanyikan lagu berbahasa Indonesia yang populer, padahal ia sudah menyiapkan lagu berbahasa Inggris, sehingga tidak bisa memenuhi permintaan pengaudisi. Atau misalnya lagu yang sudah dipersiapkan dengan matang, tetapi saking gugupnya kontestan lupa sebagian besar liriknya, dan sebagainya.
Sebagian besar dari kontestan audisi yang lolos, menurut pengamatan saya adalah mereka yang selain vokalnya cukup baik, memiliki attitude yang positif, juga memiliki karakter yang khas, serta mudah diingat. Karena yang seperti demikian biasanya akhirnya berpotensi untuk menjadi idola. Jadi walau belum sempurna, tetapi jika kontestan memiliki hal di atas, maka kemungkinan besar ia akan lolos ke tahap selanjutnya.
Eliminasi
Dari sekitar 150,000 lebih kontestan audisi dari seluruh Indonesia, akhirnya tersaring 100 kontestan yang akan memasuki babak eliminasi. Di mana kontestan akan dikarantina selama beberapa hari untuk menjalani tahap ini.
Dalam tahap eliminasi pertama, ke-100 kontestan akan dibagi sepuluh grup berisi sepuluh, yang nantinya masing-masing menyanyikan cuplikan lagu dengan singkat di hadapan ketiga juri. Dari sini juri menentukan siapa saja yang layak maju ke babak selanjutnya. Tahap ini tentu sangat penting bagi peserta. Bayangkan, mereka harus meyakinkan para juri hanya dengan waktu yang sangat singkat dengan cuplikan lagu yang pendek. Pada malam itu, 50 orang tereliminasi dan harus pulang.
Tahap eliminasi yang kedua, 50 kontestan diminta membuat grup berisi minimal 3 orang dan maksimal 5 orang. Lalu mereka harus menyanyikan lagu yang sudah dipilihakan pihak penyelenggara. Dalam tahap ini, mulai terlihat attitude para peserta. Sebagian ada yang ingin menonjol sendiri dari teman-teman dalam grupnya, ada yang pasrah saja, ada yang sangat pemilih dalam membentuk grup, dan sebagainya. Saya dan Irvan Nat, didampingi perwakilan dari music director Mas Oni, yaitu Hanni, membantu mereka dalam menentukan kunci lagu dan aransemen vokal grup, serta memberikan sedikit arahan-arahan kepada mereka. Hal ini kami lakukan hingga larut malam.
Ketika kontestan bernyanyi dalam grup, kita bisa melihat kedewasaan bermusik mereka. Apakah mereka paham akan fungsi masing-masing di dalam grup, apakah ia ingin menonjol sendiri, dan apakah dia bisa bekerjasama dengan baik. Juri memperhatikan hal ini dan menjadikannya bahan pertimbangan untuk memilih siapa yang maju dan siapa yang harus pulang. Akhirnya dalam tahap eliminasi ini 25 orang harus pulang.
Selanjutnya, 25 besar. Mereka akhirnya punya kesempatan untuk bernyanyi satu lagu secara solo dan diiringi band, dengan lagu pilihan mereka sendiri. Tahap ini kami sebut “Sing For Your Life”. Saya mendampingi vocal director Irvan Nat kembali membantu mereka dalam menentukan kunci lagu dan sedikit aransemen lagu. Tahap ini adalah pintu gerbang mereka menuju babak Spektakuler.
Saat pertunjukan 25 besar ini, kita betul-betul bisa melihat, siapa di antara kontestan yang memang siap untuk menjadi penyanyi solo, menjadi seorang star. Kualitas ini yang dicari oleh para juri, maupun pihak RCTI dan Fremantle Media. Dalam tahap ini juga, saya selalu mengingatkan pada para peserta, bahwa ini bukan lagi unjuk suara, melainkan unjuk mental. Dan pada akhirnya, 10 orang harus pulang, menyisakan 15 kontestan untuk memperebutkan posisi 12 besar dalam Spektakuler Show.
Dan karantinapun dimulai. Saya pun sudah mulai bertugas secara intensif melatih vokal ke-15 peserta. Irvan Nat selaku vocal director juga bekerja keras untuk menghasilkan show yang terbaik dari Indonesian Idol. Sedikit informasi saja, job description kami berbeda dan tidak overlapping. Jika disederhanakan, tugas saya sebagai vocal coach fokus pada teknik vokal peserta, sedangkan Irvan Nat sebagai vocal director fokus pada aransemen musik dan vokal, serta gaya menyanyi. Saya merasa kombinasi ini adalah kombinasi yang dahsyat. — Anda ingat momen seru di mana 9 kontestan dibagi menjadi boy band dan girl band? itu adalah contoh ide brilian sang vocal director Irvan Nat.
Berada di karantina, kontestan harus mengikuti jadwal yang sudah diset oleh pihak manajemen, serta tidak diizinkan memegang ponsel kecuali di waktu tertentu. Jadwal merekapun sangat ketat, dari berbagai kegiatan promo, photo session, wawancara, latihan vokal, workshop lagu hingga larut malam, latihan dengan band, koreografi, public speaking, dan banyak lagi. Belum lagi tiap kontestan harus menghafal lagu baru setiap minggunya.
Hari demi hari karantina dijalani. Dan mulai terlihat, siapa di antara kontestan yang bisa konsisten, siapa yang mulai “kelelahan” dan kehilangan semangat, dan siapa saja yang memiliki tekad bulat menjadi the next Indonesian Idol. Sekali lagi, ini masalah mental! Dalam show malam pertama babak ini, 3 orang harus pulang menyisakan 12 kontestan Spektakuler. Menurut saya, kualitas utama yang membuat mereka terpilih manjadi 12 besar adalah satu hal, karakter! Perhatikan setiap kontestan 12 besar, mereka semua memiliki ciri khas dan karakter yang mudah melekat dalam ingatan kita.
Babak spektakuler
Untuk kontestan Spekta, jadwal latihan teknik vokal (pernafasan, vokalisi, dsb) adalah dua kali seminggu antara jam 9 pagi hingga 12 siang. Termasuk di dalamnya melatih teknik pernafasan dan vokalisi. Selain itu ada juga workshop bersama vocal director untuk memilih lagu, menentukan nada dasar, dsb. Workshop bisa berlangsung hingga larut malam. Selanjutnya ada juga latihan bersama band, yaitu band Mas Oni & Friends. Latihan dilaksanakan di School of Sound Recording (SSR) Podomoro City. Selain itu, ada sound check dan GR di malam sebelum show.
Para kontestan Spekta, yaitu Kanza (menggantikan Heriyanto yang mengundurkan diri), Rosa, Dera, Sean, Regina, Belinda, Shandy, Rio, Ivan, Dion, Yoda, dan Febri, diharuskan menghafal materi baru setiap minggunya, bukan hanya lagu, melainkan koreografi juga. Para kontestan ini dibekali sebuah MP3 player dan secarik kertas lirik untuk menghafal, dan mereka betul-betul berusaha menghafal setiap ada kesempatan.
Dalam latihan teknik vokal, saya pisahkan antara laki-laki dan perempuan, hal ini dikarenakan range vokal yang berbeda di antara keduanya. Biasanya secara rutin saya memulai dengan stretching fisik dilanjutkan oleh pernafasan. Lalu vocalizing agar otot vokalnya lebih lentur, memiliki stamina, dan siap bekerja secara profesional. Sekadar catatan, dari semua kontestan yang selalu hadir pertama di ruang latihan adalah Regina, lalu diikuti oleh Sean.
Setelah beberapa minggu di babak spekta, saya melihat kemajuan yang cukup signifikan pada teknik vokal dua orang kontestan, yaitu Febri dan Rosa, padahal kedua sempat tidak dijagokan. Sementara yang kemajuannya lambat adalah Rio.
Untuk Rosa dan Regina, permasalahan utama di awal adalah range vokal yang pendek, serta kesulitan menemukan head voice mereka. Bahkan salah satu juri Agnes Monica sempat menduga Regina memiliki vocal nodule di pita suaranya sehingga tidak bisa menyanyikan head voice. Tetapi dengan usaha dan kerja keras keduanya, akhirnya mereka mampu menyanyi dengan head voice mereka, baik secara lembut maupun keras.
Untuk Yoda, permasalahan utamanya adalah tension, atau tekanan pada tenggorokannya setiap ia menyanyi. Yoda mengakui bahwa ia kesulitan dalam menyanyi jika tidak mengumbar power. Saya mencoba untuk mengurangi tension dari vokalnya. Hal ini selalu berhasil saat kami berlatih di studio, tetapi ketika Yoda naik panggung, dengan semua penonton, lighting, kamera, maka adrenalin Yoda kembali membuatnya nyanyi dengan tenaga berlebih.
Febri, memiliki suara yang khas, dan kebetulan yang paling terlihat kemajuan vokalnya. Masalah Febri pada awalnya adalah pernafasan. Febri selalu penuh energi dalam performance-nya, namun tidak didukung pernafasan yang baik sehingga sering kehabisan nafas. Hal ini juga berhasil ia atasi dengan latihan pernafasan secara rutin.
Rio dan Kanza, kesulitan dalam pitch control. Anehnya, hal ini tidak terlihat dalam babak audisi dan eliminasi, dan mulai terlihat di babak Spekta. Saya menduga hal ini disebabkan kurang pengalaman keduanya di situasi live di atas panggung dengan sound system yang besar. Mereka harus bisa lebih rileks di panggung serta membukan telinganya lebih lebar lagi. Saya juga menyarankan Rio agar belajar bermain alat musik seperti piano dan gitar.
Dion, adalah penyanyi yang memiliki karisma yang besar. Hal ini adalah modal yang sangat besar untuk Dion. Untuk vokalnya sendiri ia memiliki ciri khas, tetapi vokalnya masih kurang didukung oleh teknik yang baik. Pendengaran musikalnya juga kurang peka pada awalnya. Seiring dengan waktu terus membaik. Saya yakin jika Dion terus berlatih vokalnya akan semakin maju, sehingga karismanya juga didukung vokal yang baik.
Sandy adalah seorang rocker galau, sehingga cocok sebetulnya menyanyikan lagu slow rock. Masalah vokal Sandy pada awalnya sama seperti Yoda, yaitu tension. Bisa kita lihat ketika Sandy mulai naik ke nada tinggi, lehernya menjadi tegang, dan suaranya agak pecah. Selain itu juga, seperti Dion, pendengaran musikal Sandy tidak terlalu peka. Hal ini mungkin karena Sandy sebelumnya sering ngamen, sehingga terbiasa nyanyi tanpa sound system di luar ruangan.
Sean memiliki vocal range yang luar biasa luas. Dari range seorang tenor hingga soprano. Sean juga memiliki musikalitas tinggi. Masalah Sean di awal adalah kontrol emosi. Dalam bernyanyi, kita menceritakan lirik dari lagu yang kita nyanyikan, sehingga semua yang kita lakukan adalah untuk mendukung cerita tersebut. Setelah beberapa pekan Sean berhasil mengatasi masalah emosi ini.
Ivan memiliki vokal yang khas pop. Sangat cocok dengan lagu-lagu populer masa kini. Hanya saja masalah Ivan di awal adalah vokalnya kurang power. Jika ia menyanyi bersama teman-temannya maka suara Ivan bisa tenggelam. Namun Ivan juga yang kemajuannya terlihat selain juga Febri. Range vokal Ivan juga cukup lebar. Tinggal pengalamannya saja yang harus terus diasah.
Dera pada awalnya dibilang memiliki vibrato yang aneh, karena getarannya terlalu rapat. Memang hal itu betul adanya terutama saat ia pertama kali audisi. Tetapi setelah beberapa minggu, masalah ini mulai berkurang. Ciri khas Dera adalah pada vokalnya yang terdengar polos namun berenergi. Dera juga satu-satunya sopran di antara keenam kontestan perempuan.
Belinda adalah yang pada awalnya saya kira akan menjadi pesaing Regina, karena karakter rock vokalnya serta pengalaman manggung yang juga banyak, seperti Regina. Masalah Belinda juga seperti Sean, kendali emosi. Masalah emosi ini bisa membuat Belinda lupa lirik. Belinda juga terkadang terlalu nyaman dengan kemampuannya sehingga kadang membuatnya lengah dalam berlatih.
Saya perhatikan, minggu-minggu babak Spekta ini, dengan jadwal padatnya, latihan hingga larut malam, serta pengalaman panggung disiarkan langsung di TV dengan jutaan pemirsa, bagaikan gelombang ombak yang mengasah setiap peserta. Ada yang terasah lalu terlihat kualitasnya bintangnya, ada juga yang terasah malah terlihat kelemahannya. Ini semua kembali ke masalah mental. Semua pelatihan yang para kontestan terima, baik latihan vokal, koreografi, public speaking, dan lainnya adalah pendukung yang membekali para peserta, tetapi mental masing-masinglah yang menentukan sejauh mana mereka bisa maju.
Catatan: para kontestan ini mengalami perubahan dahsyat dari (istilah kasarnya) bukan siapa-siapa menjadi sangat terkenal dalam waktu yang sangat singkat. Mental yang kuat dibutuhkan agar selalu menjaga kerendahan hati, yang diperlukan untuk terus belajar dan berkembang!
Masalah teknis yang mereka temui di panggung Spekta, rata-rata adalah masalah monitor. Speaker monitor di panggung Spekta di tanam di bawah lantai panggung, sehingga panggung terlihat bersih. Tetapi ketika show dimulai, penonton juga mengeluarkan suara yang keras, baik ikut bernyanyi, maupun saat mereka bersorak. Memang perlu membiasakan diri untuk hal yang satu ini. Selain monitor, para kontestan yang perempuan juga terkadang bermasalah dengan kostum. Beberapa tidak terbiasa dengan sepatu hak tinggi. Kadang juga kostum gaun yang panjang sehingga menyulitkan gerak-gerik mereka.
Mendekati 3 besar, babak Spekta pun semakin ketat. Di sini saya semakin melihat mereka yang kualitas bintangnya semakin berkilau. Regina dan Sean memang yang saya lihat paling menonjol. Perhatikan ketika mereka perform, selain memang vokalnya yang sangat baik, ekspresi wajah mereka, pandangan mata, bahasa tubuh, semuanya tegas dan memberikan pernyataan yang jelas. Dalam istilah vokal saya menyebutnya dengan presence. Ketika di atas panggung, mereka betul-betul menunjukkan “Saya di atas panggung ini, dan saya akan mengatakan sesuatu!”. Setelah itu, kita semua tahu bagaimana akhir dari perjalanan Indonesian Idol 7 ini.
Kesimpulan saya, untuk berhasil di dunia hiburan sebagai penyanyi, kita harus:
1. Memiliki attitude atau sikap yang baik dan positif, sehingga kita memancarkan energi positif yang menarik orang-orang yang positif.
2. Memiliki karakter dan ciri khas yang membuat orang ingat kepada kita. Bisa kita lihat pada Yoda yang karakter rock melekat pada dirinya serta sangat mudah diingat.
3. Rajin berlatih, penyanyi yang baik selalu siap di atas panggung. Baik itu vokalnya, juga siap secara performance (liriknya, kompak dengan band, dsb).
4. Meningkatkan terus jam terbang. Para peserta Indonesian Idol ini setiap minggu tampil di atas panggung TV nasional, pengaruhnya luar biasa pada kemampuan mereka.
5. Selalu rendah hati dan menghargai orang lain. Kita sebagai penyanyi tidak bekerja sendirian, melainkan dengan banyak orang termasuk kru, make up artist, kameraman, dan lainnya.Hargailah rekan kerja kita!
Demikian sedikit catatan saya yang ingin saya bagi dengan anda semua pemirsa VokalPlus. Semoga sedikit banyak kita dapat mengambil pelajaran dari pengalaman ini. Terima kasih sudah membaca, terus semangat!
– Indra Aziz, Twitter: @IndraAziz, website: http://www.indraaziz.net
